Quo Vadis Cintaku

Quo Vadis Cintaku
: Edi Santana Sembiring

Aku pernah menikmati ini, wajah manis yang kecerdasannya jujur melekat tak bercelah. Ketermanguanku bukan ilusi atau mimpi yang mencari peri. Aiihhh…… otakku tak usil bersiul nakal, belalak mataku tak rakus, pandanganku tak mampu menyapa. Bukan tak sudi, tapi kilaumu tak sanggup kulewati.

Aku pernah merasakan ini, sebuah kerinduan menanti pagi. Kehangatan Timur memangkas kebekuan, gelombangnya mengalir deras di kaki bukit penantian. Pagi menawarkan harapan, embunnya membasuh jiwa yang kerontang. Sabdamu adalah nafas yang menebas pertapaan. Saat ini kerinduan akanmu adalah penantian pada setiap pagi.

Di titik nol, ratusan kata merangkai puisi, jemari menari melukis bait-bait gundah gulana. Seperti dulu, kinipun berulang. Syair itu sungguh klise, semoga tak ada kata yang tergambar, tapi perulangan mencibirkan harapan. Sungguh kecut yang sakit memecut.

Dan kakiku hanya menari di titik nadir, menatap di balik keraguan.

Seperti dulu, kini pun aku merasakan.
Bayangan yang sama,
wajah yang berulang……

Quo Vadis Cintaku?

Tags: , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: